Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Mei 2019

Mengatasi Keterlambatan Bicara pada Anak di Atas Umur Dua Tahun dengan Terapi Sensori Integrasi

Mei 11, 2019


Terapi sensori integrasi dapat membantu anak-anak yang terlambat bicara.

Menginjak dua tahun, Arina belum bisa mengucap banyak kata. Kata yang keluar tidak lebih dari 10 kata. Bahkan, merangkai kalimat dengan dua kata pun ia tak bisa. Timbul rasa khawatir bahwa ia mengalami keterlambatan bicara.

Jika melihat artikel berjudul Keterlambatan Bicara yang ditulis oleh Amanda Soebadi dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI – RSCM di website Ikatan Dokter Anak Indonesia atau Idai.or.id Arina mengalami perkembangan yang cukup normal sampai usia 1 tahun. Hanya saja, menjelang usia 18 bulan, tidak ada perkembangan dari kata-kata baru yang diucapkannya.
Infografis: Aprillia Ramadhina


Namun, saya mencoba terus bersabar dan terus melatihnya. Tapi, sampai usia dua tahun empat bulan, karena tak ada perkembangan yang signifikan, saya dan suami memutuskan untuk memeriksakannya ke klinik tumbuh kembang.

Setelah konsultasi dengan dokter, dan dites beberapa hal, Arina dirujuk untuk assessment dan terapi sensori integrasi. Dokter bilang, memang sedikit ada keterlambatan, tapi belum terlalu parah. Meski begitu, tetap harus segera diatasi, agar keterlambatannya tidak bertambah parah.

Infografis: Aprillia Ramadhina


Dokter di klinik tumbuh kembangnya menyarankan Arina untuk:
1. Terapi Sensori Integrasi di klinik
2. Terapi Sensori Integrasi di rumah
3. Ikut kegiatan atau kelas nursery.
4. Dimasukkan ke daycare (supaya sering bermain dengan teman sebaya)

Setelah konsultasi ke dokter, Arina pun menjalani assessment. Saya harus mengisi sejumlah informasi mengenai perkembangannya. Dimulai dari riwayat kehamilan saya, hingga kemampuan apa yang sudah ia bisa. Terapisnya juga menanyakan banyak hal, termasuk apakah sebelumnya Arina pernah mengalami keterlambatan atau tidak. Tidak. Tumbuh kembang Arina awalnya baik-baik saja. Ia tumbuh sebagaimana mestinya. Dari mulai tengkurap, duduk, merangkak dan berjalan, semua ia capai di usia yang wajar.

Mengapa Terapi Sensori Integrasi dan Bukan Terapi Wicara?

Telat bicara, kok terapinya sensori integrasi? Awalnya saya juga tidak begitu paham, sampai terapisnya Arina menjelaskan mengenai piramida Central Nervous System. Bisa dilihat pada foto berikut.


Sensori terletak pada bagian dasar piramida tersebut, sementara kemampuan bicara atau auditory languange skill ada di bagian atas (perceptual motor). Itu artinya, untuk bisa berada di tahap bicara yang baik, maka level-level di bagian dasar piramida itu harus bisa dilewati dengan baik.

Input sensorik sendiri berkaitan dengan apa yang kita lihat, dengar, raba, kecap, cium, dan rasakan dari sekitar kita dan dari badan kita sendiri. Bagaimana kita mengolah input tersebut, menentukan perilaku yang dipilih untuk memahami diri sendiri, lingkungan dan sekitarnya, serta bagaimana berinteraksi dengan lingkungan tersebut.

Itulah mengapa terapi yang harus dijalani Arina bukanlah terapi wicara melainkan terapi sensori integrasi. Singkatnya, untuk mencapai tahap kemampuan bicara, harus punya kemampuan sensori yang baik terlebih dulu. Lagipula, terapi wicara baru bisa dilakukan untuk anak yang sudah bisa duduk tenang. Ditambah, Arina perhatiannya sulit terfokus, karena itu, penting untuk memaksimalkan kemampuan sensoriknya, agar nantinya lebih mudah belajar bicara.

Setelah diberi Home Program atau terapi sensori integrasi yang harus dilakukan di rumah, terapisnya bilang begini;

“Bu, satu hal yang harus diingat. Mau terapi berapa kali juga, itu akan percuma, kalau di rumah juga nggak sering dilatih. Karena biar bagaimana pun juga, yang paling penting itu latihan di rumah.”

Walaupun saya tahu itu, saya cukup tertohok. Saya merasa ternyata selama ini kurang memperhatikan Arina. Kurang rajin melatihnya, kurang telaten mengajarinya. Dan lebih dari itu, mungkin juga kurang sering mengajaknya bicara. Baru dua tahun usianya, sudah banyak kesalahan yang saya buat.

Iya, saya lalai. Dari kelalaian itu, Arina yang harus terima imbasnya. Sungguh tidak adil, ya. Dia tidak minta dilahirkan ke dunia, tapi mengapa orangtuanya tidak mengurusnya dengan tepat. Sekarang yang bisa saya lakukan adalah berupaya untuk membantunya terapi, baik di tempat terapi, di rumah, dan melibatkannya pada kegiatan-kegiatan anak seusianya.


Memulai Terapi Sensori Integrasi di Rumah


Ini yang saya lakukan untuk terapi Arina di rumah berdasarkan rujukan Home Program yang ditentukan oleh terapisnya.

Terapi awal sensori integrasi Arina di rumah:
1. Main pasir
2. Memasang puzzle
3. Berjalan di tempat sempit atau pinggir trotoar
4. Bermain tepung pakai air
5. Mengelem
6. Berdiri di atas bangku sambil melempar bola
7. Mengelompokkan bola-bola dalam satu warna
8. Memakai dan melepas pakaian sendiri
9. Bermain ayunan
10. Melompat di tempat

Ini kegiatan yang dilakukan selama dua minggu. Ke depannya tentu akan lebih banyak lagi variasi latihan yang harus Arina lakukan. 

Semua latihan ditujukan agar Arina bisa belajar seimbang, tidak lagi gampang merasa jijik dengan yang lengket-lengket dan bisa lebih aware dengan diri sendiri dan sekitar. Lambat laun, ketika kemampuan-kemampuan dasar ini berkembang, otak Arina akan lebih mudah memproses informasi yang berkaitan dengan bahasa.

Infografis: Aprillia Ramadhina


Meningkatkan Kemampuan Bicara pada Anak Melalui Kelas Nursery

Selain terapi di klinik dan di rumah, dokter juga menyarankan memasukkan Arina ke daycare atau kelas nursery supaya sering bermain dengan teman sebaya. Kelas nursery merupakan salah satu bagian awal dari pendidikan anak usia dini di luar rumah.

Manfaat yang didapatkan anak jika mengikuti kelas nursery:


1. Membantu kesiapan anak untuk sekolah 
Anak-anak bergaul dengan anak-anak lain, sehingga akan lebih siap jika nanti akan sekolah. Mereka dapat beradaptasi dengan lingkungan belajar, memiliki keterampilan sosial yang besar dan merasa aman di lingkungan yang berbeda.

Selain itu, kelas nursery juga dapat membantu anak lebih mandiri, seperti mencuci tangan, merapikan mainan, dan bermain bergantian dengan anak lain. Mereka akan lebih tahu tentang bagaimana seharusnya berperilaku. 

2. Meningkatkan kepercayaan diri
Dengan bermain bersama anak-anak lain, maka mereka akan lebih percaya diri dan tetap aktif. Karena itu, penting untuk memberikannya kegiatan baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan. Anak-anak juga akan lebih bersemangat dan bergembira jika bermain bersama teman-teman sebaya. 


Kelas Pre-nursery dan Kelas Nursery di Apple Tree Pre-School BSD

Sumber: https://www.appletreebsd.com/

Saya pun mencari tahu di mana kelas-kelas nursery diadakan dan menemukan Apple Tree Pre-School BSD. Bahkan selain kelas nursery untuk anak umur 3 - 4 tahun, juga ada kelas pre-nursery untuk anak usia 2-3 tahun.

Kelas pre-nursery ini melatih transisi anak-anak yang biasa di rumah dengan sekolah. Jadi, membantu Anda agar lebih siap memasuki masa sekolah. Sementara di kelas nursery, pengetahuan dan keterampilan sosial anak-anak semakin dikembangkan. Aspek-aspek pembelajaran semakin ditekankan di sini. 

Sepertinya, ke depannya untuk membantu Arina semakin lancar bicara, saya berniat memasukkannya ke kelas nursery. Tentunya, Apple Tree Pre-School BSD bisa menjadi pilihan. Karena, rumah saya yang di Tangerang, tidak terlalu jauh dari lokasi Apple Tree Pre-School di BSD.
Sumber gambar: https://www.appletreebsd.com/. Infografis: Aprillia Ramadhina

Selain itu, ada banyak keunggulan lainnya yang ada di Apple Tree Pre-School BSD, yatu kurikulumnya yang mengadopsi kurikulum di Singapura, bahasa yang digunakan adalah bahasa Inggris dan Mandarin, serta tersedia kelas untuk beragam usia, mulai dari 1,5 tahun hingga 6 tahun (pilihan kelas yang ada dapat dilihat di sini). Kualitasnya tentu tak perlu diragukan lagi, karena sudah ada lebih dari 20 sekolah Apple Tree Pre-School yang tersebar di Indonesia.

Saya tertarik dengan slogan Apple Tree Pre-School BSD yang berbunyi "Tree of Knowledge, Wisdom and Growth". Itu menandakan bahwa di sana, bukan hanya fokus pada pertumbuhan dan pengetahuan saja yang ditanamkan, tapi juga kebijaksanaan. Ini menjadi penting, mengingat makin hari kita semakin sering menemui orang yang sukses dan pintar, tapi sayangnya kurang bijaksana.


Harapan Itu, Hanya Melihat Arina Tumbuh dan Berkembang Sebagaimana Mestinya


Ketika menjadi ibu, kebahagiaan saya tidak pernah muluk terhadap Arina. Saya hanya ingin dia tumbuh sehat, bahagia, dan sebagaimana mestinya. Karena itu, jika dia terlambat bicara begini, saya sedih. Tapi, yang perlu disedihkan bukan kemampuannya yang minim. Tapi saya sedih, mengapa tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk dia.

Tampaknya, bukan Arina saja yang perlu latihan dan terapi. Saya, ibunya juga harus terus belajar. Belajar bagaimana menumbuh kembangkan Arina dengan baik. Karena semua yang ia dapat sejak kecil, adalah bekal yang akan dia bawa kelak sampai ia sewasa. Pendidikan anak usia dini adalah dasar, yang membantunya membangun fondasi dari karakternya nanti di masa depan.

Menjadi ibu, adalah peran yang harus dilakoni seumur hidup. Tanggung jawabnya adalah anak. Bagaimana ia bisa hidup dengan baik dan layak sampai ia bisa memegang kendali atas hidupnya sendiri. Menjadi orangtua tidak ada sekolahnya. Mempelajari ilmu dari orangtua kita terdahulu juga terkadang sudah tidak relevan.

Untuk memberikan pendidikan pada anak usia dini, tidak hanya ibu yang harus terlibat, tapi juga para ayah, dan keluarga atau pengasuh di rumah. Karena secanggih apa pun pendidikan yang ia dapat di luar, jika di rumah juga tidak belajar apa-apa, akan percuma. 

Peran keluarga dalam pendidikan anak usia dini sangatlah penting. Semua itu bergantung pada orangtuanya, mau terus belajar atau tidak untuk melatih anaknya. Karena menjadi orangtua, berarti menjadi pembelajar yang harus terus melatih diri untuk menjadi pendidik utama anak-anaknya. 
#appletreebsd


Selasa, 16 Oktober 2018

10 Cara #AksiSehatCeria untuk Menjadi Ibu yang Bahagia Lahir dan Batin

Oktober 16, 2018





Menjadi ibu tidaklah mudah. Terkadang ada masa-masa sulit yang harus dilewati. Ada rasa jenuh dan lelah yang sering hinggap dan sulit diusir. Namun, tentu kita tahu bahwa ibu yang sehat, baik fisik dan psikisnya akan menumbuhkan anak yang juga sehat jiwa raga. Untuk jadi ibu yang bahagia, kamu bisa memulainya dengan melakukan #AksiSehatCeria. Berikut ini 10 cara #AksiSehatCeria yang bisa kamu lakukan untuk menjadi ibu yang bahagia lahir dan batin.

Gambar: Apriltupai.com


1. Aktualisasi Diri

Aktualisasi diri sederhananya juga dipahami sebagai pemenuhan diri (self-fulfillment) yakni memaksimalkan potensi dan kemampuan yang dimiliki. Bagi saya cara saya mengaktualisasikan diri adalah dengan bekerja. Karena dengan bekerja saya menjadi merasa lebih berdaya. 

Bekerja yang saya maksud tidak terbatas pada kerja kantoran saja, ya. Bekerja freelance seperti menulis blog misalnya, juga bekerja. Intinya aktivitas yang menghasilkan uang. Berjualan online, berdagang jasa, atau apa pun, itu namanya bekerja. 


Foto: dok.pribadi


Apalagi jika penghasilan kita juga bisa membantu keadaan perekonomian keluarga dan beramal membantu kehidupan orang-orang di sekitar kita, tentu ini akan membuat kita merasa menjadi pribadi yang lebih bermanfaat. 

Aktualisasi diri tidak hanya selalu bekerja, lho ya. Bisa juga dengan terus belajar. Misalnya, kamu bisa mencoba menargetkan diri untuk bisa menguasai satu keterampilan baru, apakah itu mendesain, menjahit, menggambar, bahasa asing dan lainnya. Atau tekunilah juga hobimu. Kamu bisa mulai berkebun, memelihara hewan, dan lain sebagainya. Dengan terus menyibukkan dirimu dengan hal-hal yang kamu sukai akan membuatmu merasa bahwa hidupmu lebih berarti.

 
2. Olahraga yang mudah

Foto: Pexels.com

Apa yang membuat orang malas berolahraga? Karena kita menganggap olahraga itu berat, repot, bikin capek, dan sebagainya. Kita harus ubah mindset-nya. Cobalah olahraga yang mudah dilakukan seperti jogging. Kamu cuma butuh sepatu dan pakaian yang nyaman untuk melakukannya. Jogging juga nggak perlu jauh-jauh, di dalam perumahan juga bisa.

Kamu juga bisa olahraga di mall. Coba deh, pergi ke mall waktu mall baru buka. Terus kamu jalan cepat berkeliling mall, susuri tiap lantainya. Ini bisa membantu membakar kalori, lho! Kamu juga bisa ajak teman, jadi jalan-jalan di mall nya nggak terasa terlalu capek. Kamu juga bisa melakukan yoga atau senam di dalam rumah. Tinggal melihat tutorial-nya di Youtube. Lakukan gerakan yang mudah saja ya agar tidak cedera.

Kalau saya, berhubung punya anak yang sedang aktif-aktifnya senang lari dan jalan, olahraganya cukup temani dia jalan-jalan aja. Tinggal bawa ke taman, terus ngikutin dia lari-larian, dijamin keringetan! 


 
4. Konsumsi makanan yang bergizi

Foto: Pexels.com

Seringkali karena kesibukan yang dijalani, seorang ibu bisa telat makan atau justru mengonsumsi makanan yang kurang bergizi. Kalau kamu masih menyusui, ingatlah bahwa makanan yang kamu konsumsi juga mempengaruhi nutrisi dari ASI yang kamu keluarkan. 

Jadi, usahakan untuk konsumsi makanan sehat. Begitu pula jika anak kamu sudah lebih besar. Dengan kamu terbiasa makan makanan sehat, maka anak-anakmu juga akan meniru. Jika kamu terbiasa mengonsumsi makanan sehat sejak dini, kamu bisa mendapatkan tubuh yang sehat hingga nanti. Kamu tentunya ingin tetap sehat dalam mendampingi anakmu hingga tubuh dewasa, kan?

Saya pun selalu usahakan makan makanan yang sehat. Selain itu juga makan secara teratur dengan pola yang seimbang. Jangan sampai telat makan atau salah makan

 
5. Mengupayakan tidur dan istirahat yang cukup

Foto: Pexels.com

Tidur yang cukup? Mana bisa! Ya kalau anak kita masih bayi, kayaknya bakal susah banget bisa tidur 8 jam tiap malam. Karena itu istirahat harus diupayakan. Jangan tidur di atas jam 12 malam kalau memang nggak terpaksa. Tidurlah maksimal jam 10 malam kalau memang anak kamu masih suka terbangun di malam hari untuk menyusu.

Jika memang kamu ibu yang di rumah, saat siang hari sewaktu anak tidur, cobalah untuk istirahat. Tidur siang selama setengah jam saja sudah cukup membuat tubuhmu kembali segar. Jika tidak bisa tidur, cobalah rebahan saja dan pejamkan mata selama beberapa menit.

6. Bersosialisasi dengan teman lama dan teman baru

Foto: dok.pribadi

Jadi ibu tetap harus bersosialisasi, baik itu dengan teman lama atau juga dengan teman baru. Sapalah teman-temanmu di media sosial. Ajak mereka bertemu untuk sekadar bersenda gurau. Bagaimana caranya agar bisa punya teman baru? Ikut komunitas sesuai minat kamu. Atau datangi acara yang sesuai dengan hobimu. Misalkan, kamu suka menulis, datangi acara kepenulisan, dan berkenalanlah dengan orang-orang yang hadir di sana.

Dengan memelihara pertemanan, wawasanmu akan terus terbuka dan pandanganmu terhadap banyak hal bisa terus terbarukan. Dengan berteman juga kepercayaan dirimu akan terus stabil, dan kamu nggak tumbuh jadi ibu yang minderan. Percayalah, ibu yang minderan hanya akan menumbuhkan anak yang kurang percaya diri. Berteman akan menguatkan seorang ibu, karena mendapatkan dukungan, empati, dan terhindar dari rasa kesepian.

 
7. Merawat tubuh

Foto: Pexels.com

Tetaplah lakukan perawatan diri seperti yang kamu lakukan sebelum punya anak. Jika kamu dulunya rutin maskeran, luluran, memakai skin care, coba lakukan lagi sekarang! Sibuk mengasuh anak memang sangat mungkin membuat seorang ibu tidak lagi telaten merawat dirinya.

Padahal, kalau kita merawat diri, ini bisa meningkatkan rasa nyaman terhadap diri kita sendiri. Karena kalau kita merasa diri kita senantiasa cantik dan terawat, kita akan jadi lebih bahagia. Sebaliknya, kalau kita kusam dan dekil, kita sendiri juga akan malas melihat diri kita di cermin. Ini bisa membuat mood menjadi memburuk.

 
8. Menulis

Foto: Pexels.com

Menulis bisa membuat kamu mencapai mindfulness. Dalam artikel berjudul "The Health Benefits of Journaling" yang diterbitkan di PsychCentral.com, membuat jurnal dapat membantu seseorang untuk mengelola stres. Tindakan menulis juga mengaktifkan otak kiri yang berkaitan dengan kemampuan analitis dan rasional. Ketika otak kiri kita bekerja, otak kanan bebas untuk menciptakan perasaan dan intuisi. Singkatnya, menulis bisa membantu kamu memahami dirimu sendiri, orang lain, dan dunia di sekitarmu.

Menulis dapat membantu menjernihkan pikiran dan perasaanmu. Dengan menuliskan kemarahan, kesedihan, emosi dan hal lainnya, membantu kamu melepaskan perasaan-perasaan tersebut. Karena itu bisa membuatmu menjadi lebih tenang. Menulis juga membantumu melihat peluang tak terduga dari masalah yang menurutmu sulit terpecahkan. 

Mulailah menulis setiap hari selama 20 menit. Lupakan ejaan dan tanda baca dan mulailah menulis dari mana saja. Tulis dengan cepat tanpa menyaring dan mengedit. Bebaskan otakmu dari segala bentuk aturan. Melalui tulisan yang kamu buat, kamu akan menemukan teman yang senantiasa menerima tanpa penghakiman.


9. Donor darah

Foto: Pexels.com

Ada banyak sekali manfaat yang bisa kamu dapatkan dengan menjadi pendonor darah. Dengan rutin melakukannya, kamu bisa mendapat manfaat donor darah antara lain, jantung yang lebih sehat hingga membantu menurunkan berat badan! Donor darah selain baik untuk kesehatan fisik, juga baik untuk psikis kamu. Menyadari bahwa darahmu bisa membantu menyelamatkan nyawa orang lain tentunya akan membuatmu merasa lebih baik dan mensyukuri hidup yang kamu jalani. 

9. Jalan-jalan

Foto: dok.pribadi

Udah punya anak susah travelling? Jangan khawatir, jalan-jalan kan nggak selalu harus ke luar kota atau ke luar negeri. Jalan-jalan ke taman terdekat bareng keluarga juga udah cukup refreshing, kok! Saya sendiri kalau nggak sama keluarga ya nyempatkan diri jalan-jalan sendiri atau sama teman-teman. Ini bermanfaat banget supaya nggak suntuk di rumah. 


10. Membaca buku dan artikel yang bermanfaat di internet


Membaca buku bisa membuat kita menjadi lebih santai, lho! Karena membaca buku bisa membantu tubuh rileks dengan menurunkan detak jantung dan mengurangi ketegangan otot. Dengan membaca buku kita bisa melarikan diri sejenak dari masalah dan stres yang kita alami. Apalagi jika kamu membaca buku fiksi, perhatianmu akan teralihkan oleh imajinasi yang disuguhkan. 


Sebuah studi yang dilakukan di University of Susex pada tahun 2009 menemukan bawha membaca buku dapat menurunkan stres hingga 68%. Bahkan menurut penelitian tersebut membaca buku lebih efektif meredakan stres dibanding metode relaksasi lainnya seperti mendengarkan musik atau meminum secangkir teh hangat! Saya pun selalu mengusahakan untuk membaca minimal satu buku dalam satu bulan. Biasanya kalau bukan novel, saya suka membaca buku-buku pengembangan diri.

Kamu nggak suka baca buku karena membutuhkan banyak waktu? Tapi kamu pasti punya smartphone dan internet dong. Kalau memang nggak mungkin baca buku, kamu bisa baca artikel yang bertebaran di internet. Hanya saja tidak semua artikel di internet itu bisa dipercaya. Apalagi untuk urusan kesehatan. Banyak sekali hoax seputar kesehatan yang ada di internet. Kalau kamu butuh artikel kesehatan yang terpercaya dan terjamin kualitasnya, kamu bisa mengunjungi DokterSehat. 

Di sana banyak artikel seputar kesehatan dengan bahasa yang mudah dipahami yang bisa kamu terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya itu, ada banyak informasi bermanfaat yang mungkin tidak pernah kamu ketahui sebelumnya seputar kesehatan, seperti misalnya 10 Manfaat Bawang Merah bagi Kesehatan atau Waspadai dan Kenali Perilaku Psikopat.

Nah, itu 10 cara #AksiSehatCeria menurut saya yang bisa kamu lakukan untuk jadi ibu yang lebih bahagia. Kalau kamu, ada cara lain menurut kamu untuk melakukan #AksiSehatCeria? Share di kolom komentar, ya!












Selasa, 14 Agustus 2018

Mendidik Keluarga, Mengubah Dunia

Agustus 14, 2018

“If you want to change the world, go home and love your family.”

– Mother Teresa


Pendidikan anak dimulai dari lingkungan keluarga. Hanya saja, banyak orangtua yang menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak pada sekolah, tanpa benar-benar tahu apa yang mereka alami dan rasakan ketika berada di sekolah. Salah satu bahaya yang mengintai jika keluarga tidak peduli terhadap keseharian anaknya di sekolah adalah bullying.

Tahukah kamu bahwa bullying yang dialami seseorang bisa membuatnya ingin bunuh diri? Sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti di McGill University di Montreal, menemukan bahwa remaja yang mengalami bullying parah pada masa kecilnya memiliki kemungkinan dua kali lipat untuk mengalami depresi dan tiga kali lipat memiliki pikiran untuk bunuh diri dibanding mereka yang tidak pernah diintimidasi.   

Penelitian yang dipublikasikan di Canadian Medical Association Journal pada bulan Januari 2018 ini meneliti 1.363 yang mengalami intimidasi dari rekan-rekannya pada rentang usia 6 – 13 tahun dan terus dipantau masalah kesehatannya hingga usia 15 tahun. Penelitian ini meminta mereka merinci seberapa sering mereka mengalami penganiayaan di sekolah, baik fisik, verbal dan online. Pada usia 15 tahun, mereka ditanyakan tentang frekuensi kecemasan, depresi dan masalah perilaku selama setahun terakhir.

Bullying memang tidak hanya identik intimidasi fisik, tapi juga bisa menggunakan dunia cyber atau yang dikenal dengan cyberbullying. Contoh kasus nyata bunuh diri karena bullying terjadi pada tahun 2013. Seorang anak bunuh diri karena mengalami cyberbullying. Teror dunia maya membuat Rebecca Sedwick, gadis asal Florida yang berusia 12 tahun, memutuskan untuk tidak pergi sekolah dan justru pergi ke pabrik semen, naik ke menaranya dan melompat bunuh diri.

Di pagi terakhir ketika dirinya masih hidup, ia sempat mengganti identitas dirinya di media sosial menjadi “That Dead Girl” sebelum mengirim pesan perpisahan ke dua temannya. Mirisnya, di dalam handphone-nya ditemukan kalimat-kalimat bernada meneror seperti "Why are you still alive?", "You're ugly", "Can u die please?" dan "Go kill yourself". 

Seringkali orang tua hanya mengidentifikasikan bullying dari adanya luka atau lebam pada tubuh anak. Padahal ada ancaman yang jauh lebih membahayakan dibalik yang terlihat lewat fisik. 


Bahaya Orang Asing di Dunia Maya

Anak-anak masih kurang aware terhadap bahaya dari orang yang tak dikenal atau yang mengenal mereka namun memalsukan identitasnya dalam jejaring sosial.  Menurut data di Pew Research Center, 32% dari remaja yang beraktivitas online telah dihubungi oleh seseorang yang tidak ada hubungannya dengan mereka dan 7% dari mereka mengatakan merasa takut atau tidak nyaman sebagai akibat dari kontak dengan orang yang tak dikenal secara online.  

Kejujuran anak-anak dalam jejaring sosial seperti melakukan posting tentang bagaimana rumah mereka, di mana sekolah mereka, menyebabkan orang asing yang berniat jahat sangat mudah untuk membuntuti atau bahkan membujuk mereka untuk bertemu muka dan akhirnya bisa melakukan tindak kejahatan terhadap mereka.


Psikolog Terbaik Bagi Anak adalah Orangtuanya Sendiri

Banyak kasus tentang kekerasan dan kejahatan seksual pada anak yang baik pelaku maupun korbannya adalah anak-anak akibat beredarnya berbagai situs internet yang tidak dikontrol baik oleh para orangtua maupun orang dewasa lain yang bertanggungjawab terhadap pendidikan anak di Indonesia. Apa yang harus orangtua lakukan?

Kunci utama yang harus dilakukan orangtua adalah komunikasi. Tanyakan kepada anak, senangkah mereka di sekolah? Bagaimana perasaan mereka? Untuk mengakes internet sebisa mungkin dilakukan di ruang keluarga agar bisa dipantau. Orangtua harus menjadi pendengar aktif, menjadi tempat diskusi.

Pada tahun 2014, saya pernah hadir di sebuah seminar di mana Dr. Seto Mulyadi, Psi., M.Psi (Kak Seto) menjadi pembicaranya. Di acara seminar bertajuk “Pembentukan Karakter Anak di Era Digital” yang digelar di Tangerang itu, Kak Seto menekankan pentingnya mendidik anak dengan cinta.


Menurutnya, setiap orangtua adalah idola anak. Untuk menjadi cerdas dan kreatif, mereka harus merasa bahagia. “Psikolog yang terbaik untuk anak adalah orang tuanya sendiri. Kita harus bisa meneliti dan mengamati potensi masing-masing dari anak kita, juga perubahan-perubahan tingkah lakunya. Bahkan perubahan air mukanya pun perlu kita perhatikan.”


Anak yang cerdas adalah anak yang bahagia

Berapa banyak orangtua yang masih mendampingi anaknya belajar di rumah? Mayoritas para orangtua menyerahkannya pada guru di sekolah atau guru les privat. Sementara untuk pengasuhan juga diserahkan kepada pengasuh atau asisten rumah tangga. Berapa banyak waktu yang diluangkan orangtua untuk bercakap-cakap dengan anaknya dan mengetahui perasaan-perasaan terdalam darinya?


Para orang tua selalu menginginkan anaknya tumbuh menjadi anak yang cerdas, dan dalam pikiran orang tua, IQ menjadi tolak ukur satu-satunya kecerdasan anak ada kecerdasan spiritual dan juga kecerdasan emosional yang patut diperhatikan. “Setiap anak pada dasarnya cerdas. Dan semua anak pada dasarnya senang belajar, belajar yang paling efektif adalah belajar dalam suasana gembira.” lanjut Kak Seto.

Jika mereka gembira saat belajar, maka pelajaran akan lebih mudah untuk mereka pahami. Mengapa belajar dalam keadaan gembira ini penting sekali? Karena ternyata, Memaksa Anak Belajar dapat Memicu Depresi.


Manfaat Teknologi untuk Perkembangan Intelegensi dan Mengatasi Depresi

Layaknya dua sisi mata uang, internet tak bisa hanya dipandang negatif, ada banyak manfaatnya, terutama bagi perkembangan intelegensi anak dan kemudahan membina hubungan dengan teman-teman yang terpisah jauh atau yang sudah lama tidak bertemu. Patricia Greenfield seorang profesor psikologi di UCLA (University of California, Los Angeles) yang telah menelaah lebih dari 50 penelitian tentang penggunaan teknologi komputer dalam perkembangan inteligensi anak,  menunjukkan adanya peningkatan dalam visual reasoning.  Hal tersebut meliputi bagaimana individu mengindera secara visual dan memprosesnya sehingga mencapai suatu kesimpulan. 

Anak-anak zaman sekarang juga lebih baik dalam melakukan multitasking dibandingkan generasi sebelumnya.   Hal ini tampaknya berkaitan dengan peningkatan informasi visual yang harus diprosesnya pada saat bersamaan seperti saat mereka berinteraksi dengan teknologi komputer.

Adanya dukungan sosial juga  dapat sangat membantu anak, khususnya remaja, untuk mengatasi depresi yang dialaminya.  Ada contoh kasus tentang Tamaryn Stevens, seorang remaja 17 tahun yang didiagnosis dengan penyakit ginjal saat dia berumur 10 tahun dan kemudian menjalani operasi transplantasi. Tamaryn menggunakan jejaring sosial bernama LiveWIRE setiap hari untuk chatting dengan teman online, mem-posting pemikiran dan bahkan meng-upload puisi ungkapan hatinya. Dia merasa sangat terbantu oleh dukungan teman-temannya melalui jejaring sosial tersebut untuk mengatasi depresinya dan membuat hari-harinya menjadi jauh lebih berbahagia.

Pada akhirnya, kita hanya bisa mengubah dunia, dengan kembali ke rumah dan mencintai keluarga kita. Seperti ungkapan Mother Teresa yang membuka tulisan ini. Dengan mendidik anak-anak kita dengan baik, mereka akan menjadi penghuni bumi masa depan yang membuat dunia menjadi lebih baik.

Kunci Utama Mendidik Anak di Era Kekinian: Komunikasi yang Efektif

- Agar menjadi anak yang unggul dan berkarakter, potensi mereka perlu dikembangkan. Orang tua dan guru perlu menciptakan kondisi yang membuat anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
- Sikapi dampak negatif dan positif dari teknologi terhadap perkembangan anak.  Perlu adanya bimbingan yang tepat dan komunikasi yang efektif antara orangtua dan anak. Serap sebanyak mungkin manfaat dari kemajuan teknologi dan minimalkan dampak negatifnya.
- Psikolog terbaik untuk anak adalah orang tua. Buatlah catatan perkembangan anak, mulai dari minat sampai pertemanannya, hingga lebih mudah dibimbing dan berdialog. Teliti dan amati setiap perubahan sikap anak. Jadilah sahabat bagi anak, jangan abaikan anak meski ia tampak baik-baik saja.

#sahabatkeluarga